Saat melakukakan Kunjungan Paska Kerusuhan
11:11 PM
Pere
11:05 PM
Pere
10:58 PM
Pere
10:56 PM
Pere
10:51 PM
Pere
"Massa kecewa karena polisi tidak profesional. Menuntut polisi mengungkap kematian mahasiswa Universitas Sumbawa." Harus dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap Polres Sumbawa karena gagal mencegah berulangnya kerusuhan dengan pemicu yang mirip, yaitu kemarahan atas perilaku aparat keamanan. Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan, dengan berulangnya kejadian yang sama, pembenahan tidak cukup sebatas mencopot pimpinan kepolisian setempat. “Mestinya dengan kejadian tahun 2003, aparat kepolisian Sumbawa belajar, massa gampang terpancing emosi dan melakukan tindakan anarkis yang dipicu kekecewaan atas ketidakprofesionalan kepolisian dalam menjalankan tugas,” kata Bonar. Kerusuhan Selasa (22/1) dipicu aksi ratusan mahasiswa dan kelurga korban yang mendatangi kantor Polres Sumbawa. Mereka diikuti massa yang menuntut agar polisi mengungkap penyebab kematian Ariati, mahasiswi Universitas Sumbawa, yang juga pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Massa merasa janggal atas penjelasan Polres. Apalagi, menurut versi keluarga korban, terjadi penganiayaan terhadap Ariati. Mereka menduga Ariati dibunuh oleh Briptu I Gede Eka Suarjana, anggota Polres Sumbawa. Namun, polisi bersikeras bahwa korban meninggal karena kecelakaan. Massa makin marah ketika beredar isu terjadi pemerkosaan terhadap korban. Massa melampiaskan kemarahan dengan membakar dan menjarah fasilitas dan properti kelompok tertentu. Empat sarana peribadatan juga dirusak. Bonar Tigor Naipospos mendesak Mabes Polri mengungkap kasus ini dan memproses hukum pelaku. Jika ditemukan aparat Polres Sumbawa merekayasa kasus atau menutupi tindakan pidana terduga pelaku. "Pada pelaku anarkisme, hukum juga harus ditegaklkan," katanya.
4:17 PM
Pere
4:05 PM
Pere
6:46 PM
Pere
Ada yangg menarik dari rentetan kerusuhan di sumbawa! slaluh bersumber dari oknum polisi,Celakanya hampir 2 kasus yg sama persis mempunyai alasan yang sama(KECELAKAAN).jika Polisi mempunyai refleksi serta respon cepat terhadap pergerakan massa yg walau pada saat itu msh dalam jumlah yg menim,dalam melakukan demo di beberapa titik di sumbawa dengan berulang kali.pada saat awal terjadinya demo kecil kecilan jauh sebelum kerusuhan polisi tidak melakukan tindakan tegas kepada mahasiswa yg arogan yg mengatasnamakan kesukuan dlm sebuah orasi,dan tepat dengan ulang tahun sumbawa hal tersebut di manfaatin sama provokator untuk melakukan aksi tentu dengan tujuan kriminalitas(penjarahan)dibalik itu semua????Polisi kenapa santai-santai saja waktu demo yg jauh sebelum kerusuhan terjadi? Masih teringat tragedi berdarah Aksi ini pernah terjadi 10 tahun lalu. Pada 24 September 2003,ratusan mahasiswa Universitas Samawa (Unsa) melakukan aksi demo di Mapolres Sumbawa, sebagai protes atas kematian seorang mahasiswa yang bernama Mustakim yang diduga kuat akibat dianiaya beberapa oknum polisi. Korban yang sebelumnya masuk RSUD Sumbawa akibat kecelakaan kendaraan dijemput oleh enam anggota Polres Sumbawa dan ditahan, namun akhirnya korban dilarikan kerumah sakit dan meninggal dunia.SUDAH JADI RUMUS KERUSHAN SUMBAWA(POLISI+KECELAKAAN=RUSUH)
6:02 PM
Pere
Polda Nusa Tenggara Barat mengklarifikasi pemicu kerusuhan di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Kerusuhan tersebut terjadi karena kasus kecelakaan, bukan pembunuhan. "Jadi, kasus yang sebenarnya itu kecelakaan lalu lintas, bukan pembunuhan atau apa pun yang diisukan. Ini fakta yang sebenarnya," kata Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein seperti dikutip dari Antara, Rabu (23/1). Surkarman mengatakan, kejadian sebenarnya adalah kecelakaan lalu lintas pada Sabtu 19 Januari 2013 sekitar pukul 23.00 Wita di jalan raya jurusan Sumbawa-Kanar kilometer 15-16 di dekat tambak udang Dusun Empang, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa. Kronologi kejadiannya yakni sepeda motor Yamaha Mio DK 5861 WY melaju dari arah Kanar menuju arah Sumbawa, dan ketika tiba di dekat tambak udang itu, kendaraan selip, dan terjatuh ke kanan jalan. Akibat kecelakaan tersebut, pengendara sepeda motor yakni anggota Polri Brigader I Gede Eka Swarjana (21) yang membonceng Arniati (30) jatuh. Arniati kemudian tewas dalam kecelakaan tersebut. "Penyidik sudah memeriksa saksi-saksi, antara lain I Wayan Merta Astika dan Arahman terkait kecelakaan lalu lintas itu," ujarnya. Dengan demikian, kata Sukarman, kematian wanita tersebut akibat kecelakaan lalu lintas, dan kebetulan pengendara sepeda motor yang anggota Polri itu beragama Hindu, dan wanita yang diboncengnya merupakan pacarnya beragama Islam. Namun, beredar beragam isu yang memicu amarah sanak keluarga korban kecelakaan lalu lintas tersebut, dan warga lainnya di Kabupaten Sumbawa, sehingga dilakukan unjuk rasa berujung tindakan anarkis. Menurut catatan kepolisian, selain melempar Pura dan membakar kendaraan, juga merusak harta milik warga lainnya yang beragama Hindu. "Kami sudah berkoordinasi dengan Bupati Sumbawa, dan Brimob dari Sumbawa Barat dan Dompu untuk mengamankan situasi agar kembali kondusif," ujarnya. Saat kerusuhan, sekitar 500 orang warga melakukan penyerangan secara spontan terhadap permukiman tertentu di Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB, yang dipicu oleh isu bernuansa Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Pada Selasa, sekitar pukul 13.30 Wita, massa melakukan aksi penyerangan sejumlah tempat ibadah agama tertentu dirusakkan massa yang termakan isu. Rumah dan toko pun di beberapa lokasi menjadi sasaran amukan warga, hingga beberapa rumah yang dihuni komunitas tertentu dibakar massa, dan sejumlah kendaraan juga dirusakkan massa yang terbakar emosi. Aksi penyerangan itu, bermula dari unjuk rasa yang dilakukan sekitar 200 orang di jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, sekitar pukul 13.00 Wita. Pengunjuk rasa didominasi oleh sanak keluarga dari Arniati, wanita yang dinyatakan tewas pada malam Minggu lalu, yang dilaporkan akibat kecelakaan lalu lintas, namun sanak keluarganya meragukan penyebab kematiannya, karena di tubuh korban ditemukan tanda-tanda kekerasan. Sebelum dinyatakan tewas, Arniati bersama pacarnya anggota polisi Brigadir I Gede Eka Swarjana, keluar bermalam Minggu, menggunakan sepeda motor dengan cara berboncengan. Sanak keluarga Arniati mencurigai wanita muda itu dibunuh, bukan kecelakaan lalu lintas, dan kecurigaan itu berkembang menjadi amarah ketika semakin banyak isu yang beredar, antara lain isu menyebutkan hasil visum ditemukan tanda-tanda kekerasan dikait-kaitkan dengan kekerasan pada alat kelamin. Sanak keluarga korban yang mendapat simpati dari warga lainnya, semakin marah ketika mendapat laporan dari pihak kepolisian kematian Arniati murni kecelakaan lalu lintas. Karena itu, pada Selasa (22/1) sanak keluarga korban dan warga lainnya jumlahnya lebih dari 200 orang menggelar unjuk rasa, sekaligus sebagai aksi protes terhadap pernyataan polisi yang menyatakan penyebab kematian tersebut murni kecelakaan lalu lintas. Unjuk rasa itu berkembang menjadi aksi anarkis, sehingga hendak menyasar tempat ibadah tertentu, namun dihalau oleh aparat kepolisian yang dibantu satuan TNI. Sempat terjadi ketegangan hingga massa pengunjuk rasa nyaris bentrok dengan aparat keamanan, ketika polisi hendak menangkap seorang pengunjuk rasa yang dikenal dengan nama Slank yang diduga sebagai provokator aksi anarkis. Massa sempat melempari batu dan benda keras lainnya ke arah tempat ibadah tersebut, hingga massa aksi jumlahnya terus bertambah hingga mencapai lebih dari 500 orang, melakukan pengerusakan dua tempat ibadah, serta merobohkan pintu gerbang. Massa kemudian bergerak ke lokasi lain, dan sekitar pukul 16.00 Wita, massa melakukan perusakan terhadap toko UD Dinasty milik Wayan Rantak, hingga mencuat aksi penjarahan barang dagangan. Namun kondisi saat ini sudah kondusif. Warga masyarakat sudah kembali beraktivitas.
5:55 PM
Pere
ndonesian Police Watch (IPW) menilai kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan buntut dari kelalaian kepolisian. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (22/1) petang itu dikatakan IPW tak harus sampai terjadi andaikan polisi mampu bertindak cepat. Apalagi kerusuhan ini memiliki keterkaitan langsung dengan aksi seorang oknum polisi di Polres Sumbawa. “Brigadir polisi bernama I Gede Eka Surjana (Iger) ini kan anggota mereka, harusnya polisi bisa lebih mewanti-wanti anggotanya untuk bersikap baik di wilayah tersebut,” kata Presdir, IPW Neta S Pane, Rabu (23/1). Neta mengatakan, alasan ia meminta agar kepolisian di daerah NTB dapat menjaga sikapnya di wilayah tersebut ialah terkait sentimen warga setempat pada kepolisian. Ia menilai, aksi kekerasan yang polisi lakukan terhadap masyarakat NTB di daerah Bima masih belum dapat dilupakan warga. Oleh karenanya, menurut dia, peristiwa di Bima yang terjadi Desember 2011 lalu menjadi memori yang membuat masyarakat setempat ‘anti polisi’. Terlebih, sejak saat itu kerusuhan di wilayah tersebut terus terjadi berulang-ulang dan membuat warga kerap terlibat kontak langsung dengan kepolisian. “Pascakerusuhan Bima, sentimen negatif masyarakat NTB kepada polisi sangatlah tinggi. Seharusnya polisi merasakan hal ini,” ujar dia.
5:50 PM
Pere
4:38 PM
Pere
4:28 PM
Pere
4:16 PM
Pere
1:23 AM
Pere
9:53 PM
Pere
Turut Berlasung Kawah
Almarhumma Yeni masih Nampak Pendaraan Pada Bagian Tubuhnya,kecelakaan
Tampak Terjadi Pembengkakan Pada Tubuh Korban,Kecelakaan
Bercak Bercak Darah yg keuar dr bagian bawah perut Korban
Jangan Terprovokasi
8:20 PM
Pere
Kerusuhan massa terjadi di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa sore, 22 Januari 2013. Massa mengamuk dengan cara merusak dan membakar beberapa bangunan dan kendaraan,tidak lain dari sifat arogan Mahasiswa yg terlaluh mendramatis suatu perkara serta adanya provokasi org-org yg tidak bertanggung jawab dan memfaatkan kesempatan dalam melakukan tindakan kriminal seperti penjarahan.
8:09 PM
Pere
Kerusuhan Sumbawa yang terjadi sejak Selasa (22/01) siang sama sekali tidak diduga oleh banyak orang. Bahkan kerusuhan ini makin meluas menjadi penjarahan dibeberapa titik di Kota Sumbawa Besar.
Berikut beberapa Foto yang terekam saat awal-awal kerushan terjadi:
6:44 PM
Pere
6:35 PM
Pere