Bupati Ungkapkan Kekesalannya pada Tersangka Penjarahan


Gubernur NTB
Saat melakukakan Kunjungan Paska Kerusuhan
Ada kondisi menarik saat Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi dan Wakil Gubernur NTB Badrul Munir mengunjungi para tersangka penjarahan pada tragedi 221 Sumbawa. Bupati Sumbawa, Jamaluddin Malik menyampaikan kekesalannya pada para tersangka penjarahan saat Gubernur menanyai asal usul mereka. “Bukan orang Sumbawa itu pak Gubernur. Tidak ada sifat orang Sumbawa seperti ini,” ungkap Bupati dengan nada geram. Ingin membuktikan pernyataannya, Bupati mencoba menanyakan seorang pelaku yang masih di bawah umur. “Dari mana asalmu nak,” tanya bupati. Anak di bawah umur tersebut mengaku dari Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa. Tidak puas dengan jawaban anak itu, Bupati kembali menanyakan nama orang tuanya, seraya memberitahukan bahwa dirinya juga pernah menjabat sebagai camat di Lape. Demikian pula halnya dengan tersangka lainnya yang bernama Roy. Saat ditanyakan oleh Bupati dan Gubernur, Roy mengaku berasal dari Sulawesi Tengah. Dia tinggal sudah dua tahun di Bage Tango Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa. “Saya hanya singgah di Sumbawa Besar, dalam perjalanan dari Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat menuju Bage Tango,” akunya. Bupati kembali menegaskan kepada paara tersangka, bahwa Tau Samawa (warga Sumbawa) tidak memiliki tradisi menjarah seperti yang kalian lakukan. “Perbuatan kalian telah mencoreng nama baik tau Samawa di mata warga daerah lain,” ujar Bupati.

Lima Poin Keputusan Rapat di Wisma Daerah Sumbawa terkait Tragedi Sumbawa


Pemuka Masyarakat Sumbawa
Suasana Rapat Membahas Masalah Kerusuhan Sumbawa
Setidaknya ada 5 poin penting yang menjadi keputusan rapat para tokoh di wisma Daerah Sumbawa Besar soal tragedi 22 Januari 2013. Rapat yang dipimpin Gubernur NTB TGH Zainul Majdi ini, dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB, Kapolda NTB, Kasdam NTB, Bupati Sumbawa, segenap Muspida, para pejabat Pemkab Sumbawa, para Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Sumbawa.
Kelima keputusan itu, meliputi :
1). Seluruh pihak, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, TNI / Polri sepakat untuk berikhtiar secara bersama-sama sesuai tugas, fungsi maupun wewenangannya, untuk menciptakan situasi yang kondusif di Kabupaten Sumbawa. “Tolong sosialisasikan kepada masyarakat, baik di masjid, gereja maupun semua pertemuan-pertemuan untuk menumbuhkan semangat persaudaraan.
2). Seluruh pihak termasuk Pemda Sumbawa menyerukan kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan oknum yang tidak bertanggungjawab. “Kebenarannya saja masih belum diketahui, karenanya kita jangan terpancing dengan provokasi melalui SMS mapun broadcast-broadcast yang dikirim melalui BBM,” kata Gubernur.
3). Seluruh pihak memformasikan tata nilai masyarakat yang ada di Sumbawa. “Ini sesuatu yang sangat penting, karena itu harus dibahasakan dalam bentuk formulasi. Seperti harapan yang disampaikan beberapa tokoh masyarakat Sumbawa, bahwa Tau Samawa sangat egaliter atau menerima pendatang dengan tangan terbuka. Namun di balik itu, para pendatang juga harus menghormati tata nilai Tau Samawa itu sendiri,” jelasnya.
4). Akan dilakukan otopsi terhadap jazad Arniati sesuai permintaan keluarga. Otopsi akan dilakukan oleh tim dari kalangan independen, supaya diketahui penyebab tewasnya Arniati.
5). Cafe Batu Gong di Kecamatan Labuhan Badas harus ditutup. “Itu keputusan kita hari ini dan pelaksanaannya nanti dikordinasikan,” tegas Gubernur disambut tepuk tangan para hadirin.

Situasi Sumbawa Besar Sudah Kondusif

Kepala Kepolisan Republik Indonesia Jenderal Polisi Timur Pradopo menegaskan situasi keamanan di Kota Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, pasca kerusuhan sudah kondusif. “Update terakhir seluruhnya kondusif. Masyarakat pun telah beraktivitas seperti biasa,” kata Jenderal Polisi Timur Pradopo, di Istana Merdeka, Rabu (23/1/2013). Bahkan Polri telah mengamankan sebanyak 90 orang yang kemudian akan menjalani pemeriksaan secara intensif. “Sebanyak 90 orang ditangkap dan diperiksa untuk langkah-langkah penegakan hukum,” tegasnya. Kemarin kerusuhan besar pecah di Kota Sumbawa Besar. Akibat dari kerusuhan itu, puluhan rumah, tempat ibadah, rusak dibakar massa. Kerusuhan bermula isu yang menyebut salah seorang mahasiswi A, warga Desa Brang Rea, Kecamatan Moyo Hulu, meninggal. Massa menduga kematian A yang juga pegawai Dinas Pemkab Sumbawa akibat dibunuh dan diperkosa oleh salah seorang anggota polisi berpangkat Brigadir Satu berinisial E, yang juga pacar A. Massapun menyeruduk markas Polres Sumbawa. Massa mendesak agar Kapolres mengusut kasus kematian A. Suasana semakin panas karena massa juga merusak bangunan yang dilewati. Kapolri membantah kematian A dibunuh anggota polisi. Kematian A murni kecelakaan tunggal.

Pembongkaran Jenazah Arniati Untuk Proses Otopsi

Kepolisian Daerah (Polda) NTB Kamis siang (24/01/2013) melakukan otopsi jenazah Arniati, korban kasus kecelakaan lalu lintas yang berkembang menjadi isu perkosaan. Otopsi dilakukan di pemakaman umum Desa Berang Rea, Kecamatan Moyo Hulu. Proses tersebut dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian korban. Di samping itu, juga atas permintaan keluarga korban dengan melibatkan dokter forensik independen dari Fakultas Kedokteran Universitas Mataram dan dokter Rumah Sakit Umum Mataram. Otopsi yang berlangsung di bawah guyuran hujan, mendapat penjagaan ketat aparat keamanan gabungan TNI dan Polri. Secara langsung Dir Binmas Polda NTB, Suwarto memimpin proses dan pengamanan otopsi. Warga pun dilarang keras mendekati tempat otopsi yang dibatasi dengan garis polisi dan ditutupi terpal setinggi 2 meter. Hanya keluarga korban yang diijinkan untuk memasuki area pembongkaran kubur dan mengikuti jalannya otopsi.
Kabid Humas Polda NTB, AKBP Sukarman Husain, yang dikonfirmasi, mengatakan, Polda NTB akan menggelar konferensi pers yang akan disampaikan secara langsung oleh Kapolda NTB, Brigjen Pol. M. Iriawan bersama tim dokter forensik independent yang memeriksa jenazah korban. Orang tua korban, Hamid, mengaku belum yakin dengan keterangan visum yang dirilis kepolisian, sehingga otopsi harus dilakukan. Ia tidak kuasa menahan tetesan air mata saat menyaksikan secara langsung jenazah anak bungsu dari 3 bersaudara tersebut. Orang tua korban berharap agar pihak kepolisian transparan dalam penanganan kasus ini. Sedangkan warga setempat / berharap supaya oknum anggota polisi yang terlibat dalam kematian korban arniati dapat ditindak tegas dan seadil-adilnya.

ketidakprofesionalan kepolisian,Kasus Kerusuhan sumbawa

"Massa kecewa karena polisi tidak profesional. Menuntut polisi mengungkap kematian mahasiswa Universitas Sumbawa." Harus dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap Polres Sumbawa karena gagal mencegah berulangnya kerusuhan dengan pemicu yang mirip, yaitu kemarahan atas perilaku aparat keamanan. Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan, dengan berulangnya kejadian yang sama, pembenahan tidak cukup sebatas mencopot pimpinan kepolisian setempat. “Mestinya dengan kejadian tahun 2003, aparat kepolisian Sumbawa belajar, massa gampang terpancing emosi dan melakukan tindakan anarkis yang dipicu kekecewaan atas ketidakprofesionalan kepolisian dalam menjalankan tugas,” kata Bonar. Kerusuhan Selasa (22/1) dipicu aksi ratusan mahasiswa dan kelurga korban yang mendatangi kantor Polres Sumbawa. Mereka diikuti massa yang menuntut agar polisi mengungkap penyebab kematian Ariati, mahasiswi Universitas Sumbawa, yang juga pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Massa merasa janggal atas penjelasan Polres. Apalagi, menurut versi keluarga korban, terjadi penganiayaan terhadap Ariati. Mereka menduga Ariati dibunuh oleh Briptu I Gede Eka Suarjana, anggota Polres Sumbawa. Namun, polisi bersikeras bahwa korban meninggal karena kecelakaan. Massa makin marah ketika beredar isu terjadi pemerkosaan terhadap korban. Massa melampiaskan kemarahan dengan membakar dan menjarah fasilitas dan properti kelompok tertentu. Empat sarana peribadatan juga dirusak. Bonar Tigor Naipospos mendesak Mabes Polri mengungkap kasus ini dan memproses hukum pelaku. Jika ditemukan aparat Polres Sumbawa merekayasa kasus atau menutupi tindakan pidana terduga pelaku. "Pada pelaku anarkisme, hukum juga harus ditegaklkan," katanya.

Ahirnya Polisi Menetapkan 27 Org yg terlibat Dlm kerusuhan Sumbawa

Polisi menahan 33 orang karena terlibat kerusuhan di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Dari jumlah itu, 27 orang diketahui melakukan penjarahan dan enam orang melakukan pengrusakan. "33 Orang ditahan. Disampaikan bahwa situasi Sumbawa besar sudah pulih kembali aman dan kondusif, aktivitas kegiatan masyarakat normal kembali," kata Kapolda NTB Brigjen M Iriawan, Kamis (24/1). Berdasarkan investigasi polisi, penyebab kerusuhan karena meninggalnya seorang perempuan, merupakan murni kematian disebabkan kecelakaan lalu lintas bukan dianiaya. "Namun untuk meyakinkan hasil tersebut, kepolisian masih menunggu hasil otopsi atas jenazah korban," katanya. Hari ini, tim dokter independent telah selesai menggali kuburan, dan melakukan otopsi jenazah korban. Penggalian dilakukan sejumlah dokter dari RSU Sumbawa dan Universitas Mataram, serta disaksikan sejumlah elemen masyarakat. "1134 Personel kepolisian dan 532 personel TNI bersiaga di sejumlah titik rawan, untuk mencegah terjadinya kerusuhan susulan," terangnya.

Jenazah Ariyati dibongkar untuk Diotopsi


Proses Pembongkaran jenasah
Ayahanda Ariayati Ikut Menyaksisikan Proses Pembongkaran
Polisi mengotopsi jenazah Arniati, korban tewas yang memicu kerusuhan berbau SARA di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Otopsi ini untuk membuktikan kondisi tubuh jenazah sebelum meninggal. Karena sebelumnya dikabarkan Arniati mengalami luka-luka akibat penganiayaan berat. Makam Arniati di Brang Bolo, Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa, kembali digali, Kamis (24/1/2013). Proses tersebut disaksikan anggota keluarga, kerabat, dan juga warga. Hamid, ayah Arniati mengatakan saat anaknya dimandikan ditemukan luka-luka di tubuh korban. Cedera tersebut terlihat seperti bekas pukulan. Karena itu mereka tidak terima jika korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Otopsi di lokasi pemakaman oleh tim independen dari Universitas Mataram dan Rumah Sakit Umum Mataram berlangsung tertutup. Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah NTB Komisaris Besar Suwarto mengatakan, otopsi ini diharapkan bisa menjelaskan penyebab kematian Arniati. Kematian Arniati memicu kerusuhan berbau SARA di Sumbawa pada Selasa 21 Januari lalu. Keluarga dan warga tidak percaya korban meninggal akibat kecelakaan sehingga langsung mengamuk. Puluhan rumah, belasan kendaraan, dan sebuah hotel dibakar. Ratusan rumah dan kios juga dijarah.

2 Tragedi Kerusuhan Sumbawa Dengan Alasan Yg Sama(KECELAKAAN)

Ada yangg menarik dari rentetan kerusuhan di sumbawa! slaluh bersumber dari oknum polisi,Celakanya hampir 2 kasus yg sama persis mempunyai alasan yang sama(KECELAKAAN).jika Polisi mempunyai refleksi serta respon cepat terhadap pergerakan massa yg walau pada saat itu msh dalam jumlah yg menim,dalam melakukan demo di beberapa titik di sumbawa dengan berulang kali.pada saat awal terjadinya demo kecil kecilan jauh sebelum kerusuhan polisi tidak melakukan tindakan tegas kepada mahasiswa yg arogan yg mengatasnamakan kesukuan dlm sebuah orasi,dan tepat dengan ulang tahun sumbawa hal tersebut di manfaatin sama provokator untuk melakukan aksi tentu dengan tujuan kriminalitas(penjarahan)dibalik itu semua????Polisi kenapa santai-santai saja waktu demo yg jauh sebelum kerusuhan terjadi?
Masih teringat tragedi berdarah Aksi ini pernah terjadi 10 tahun lalu. Pada 24 September 2003,ratusan mahasiswa Universitas Samawa (Unsa) melakukan aksi demo di Mapolres Sumbawa, sebagai protes atas kematian seorang mahasiswa yang bernama Mustakim yang diduga kuat akibat dianiaya beberapa oknum polisi. Korban yang sebelumnya masuk RSUD Sumbawa akibat kecelakaan kendaraan dijemput oleh enam anggota Polres Sumbawa dan ditahan, namun akhirnya korban dilarikan kerumah sakit dan meninggal dunia.SUDAH JADI RUMUS KERUSHAN SUMBAWA(POLISI+KECELAKAAN=RUSUH)

Slank samaran,Diduga menjadi Provokator kerusuhan Sumbawa

Polda Nusa Tenggara Barat mengklarifikasi pemicu kerusuhan di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Kerusuhan tersebut terjadi karena kasus kecelakaan, bukan pembunuhan. "Jadi, kasus yang sebenarnya itu kecelakaan lalu lintas, bukan pembunuhan atau apa pun yang diisukan. Ini fakta yang sebenarnya," kata Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein seperti dikutip dari Antara, Rabu (23/1). Surkarman mengatakan, kejadian sebenarnya adalah kecelakaan lalu lintas pada Sabtu 19 Januari 2013 sekitar pukul 23.00 Wita di jalan raya jurusan Sumbawa-Kanar kilometer 15-16 di dekat tambak udang Dusun Empang, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa. Kronologi kejadiannya yakni sepeda motor Yamaha Mio DK 5861 WY melaju dari arah Kanar menuju arah Sumbawa, dan ketika tiba di dekat tambak udang itu, kendaraan selip, dan terjatuh ke kanan jalan. Akibat kecelakaan tersebut, pengendara sepeda motor yakni anggota Polri Brigader I Gede Eka Swarjana (21) yang membonceng Arniati (30) jatuh. Arniati kemudian tewas dalam kecelakaan tersebut. "Penyidik sudah memeriksa saksi-saksi, antara lain I Wayan Merta Astika dan Arahman terkait kecelakaan lalu lintas itu," ujarnya. Dengan demikian, kata Sukarman, kematian wanita tersebut akibat kecelakaan lalu lintas, dan kebetulan pengendara sepeda motor yang anggota Polri itu beragama Hindu, dan wanita yang diboncengnya merupakan pacarnya beragama Islam. Namun, beredar beragam isu yang memicu amarah sanak keluarga korban kecelakaan lalu lintas tersebut, dan warga lainnya di Kabupaten Sumbawa, sehingga dilakukan unjuk rasa berujung tindakan anarkis. Menurut catatan kepolisian, selain melempar Pura dan membakar kendaraan, juga merusak harta milik warga lainnya yang beragama Hindu. "Kami sudah berkoordinasi dengan Bupati Sumbawa, dan Brimob dari Sumbawa Barat dan Dompu untuk mengamankan situasi agar kembali kondusif," ujarnya. Saat kerusuhan, sekitar 500 orang warga melakukan penyerangan secara spontan terhadap permukiman tertentu di Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB, yang dipicu oleh isu bernuansa Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Pada Selasa, sekitar pukul 13.30 Wita, massa melakukan aksi penyerangan sejumlah tempat ibadah agama tertentu dirusakkan massa yang termakan isu. Rumah dan toko pun di beberapa lokasi menjadi sasaran amukan warga, hingga beberapa rumah yang dihuni komunitas tertentu dibakar massa, dan sejumlah kendaraan juga dirusakkan massa yang terbakar emosi. Aksi penyerangan itu, bermula dari unjuk rasa yang dilakukan sekitar 200 orang di jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, sekitar pukul 13.00 Wita. Pengunjuk rasa didominasi oleh sanak keluarga dari Arniati, wanita yang dinyatakan tewas pada malam Minggu lalu, yang dilaporkan akibat kecelakaan lalu lintas, namun sanak keluarganya meragukan penyebab kematiannya, karena di tubuh korban ditemukan tanda-tanda kekerasan. Sebelum dinyatakan tewas, Arniati bersama pacarnya anggota polisi Brigadir I Gede Eka Swarjana, keluar bermalam Minggu, menggunakan sepeda motor dengan cara berboncengan. Sanak keluarga Arniati mencurigai wanita muda itu dibunuh, bukan kecelakaan lalu lintas, dan kecurigaan itu berkembang menjadi amarah ketika semakin banyak isu yang beredar, antara lain isu menyebutkan hasil visum ditemukan tanda-tanda kekerasan dikait-kaitkan dengan kekerasan pada alat kelamin. Sanak keluarga korban yang mendapat simpati dari warga lainnya, semakin marah ketika mendapat laporan dari pihak kepolisian kematian Arniati murni kecelakaan lalu lintas. Karena itu, pada Selasa (22/1) sanak keluarga korban dan warga lainnya jumlahnya lebih dari 200 orang menggelar unjuk rasa, sekaligus sebagai aksi protes terhadap pernyataan polisi yang menyatakan penyebab kematian tersebut murni kecelakaan lalu lintas. Unjuk rasa itu berkembang menjadi aksi anarkis, sehingga hendak menyasar tempat ibadah tertentu, namun dihalau oleh aparat kepolisian yang dibantu satuan TNI. Sempat terjadi ketegangan hingga massa pengunjuk rasa nyaris bentrok dengan aparat keamanan, ketika polisi hendak menangkap seorang pengunjuk rasa yang dikenal dengan nama Slank yang diduga sebagai provokator aksi anarkis. Massa sempat melempari batu dan benda keras lainnya ke arah tempat ibadah tersebut, hingga massa aksi jumlahnya terus bertambah hingga mencapai lebih dari 500 orang, melakukan pengerusakan dua tempat ibadah, serta merobohkan pintu gerbang. Massa kemudian bergerak ke lokasi lain, dan sekitar pukul 16.00 Wita, massa melakukan perusakan terhadap toko UD Dinasty milik Wayan Rantak, hingga mencuat aksi penjarahan barang dagangan. Namun kondisi saat ini sudah kondusif. Warga masyarakat sudah kembali beraktivitas.

Kerusuhan Sumbawa Akibat Polri Lambat Bertindak

ndonesian Police Watch (IPW) menilai kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan buntut dari kelalaian kepolisian. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (22/1) petang itu dikatakan IPW tak harus sampai terjadi andaikan polisi mampu bertindak cepat. Apalagi kerusuhan ini memiliki keterkaitan langsung dengan aksi seorang oknum polisi di Polres Sumbawa. “Brigadir polisi bernama I Gede Eka Surjana (Iger) ini kan anggota mereka, harusnya polisi bisa lebih mewanti-wanti anggotanya untuk bersikap baik di wilayah tersebut,” kata Presdir, IPW Neta S Pane, Rabu (23/1). Neta mengatakan, alasan ia meminta agar kepolisian di daerah NTB dapat menjaga sikapnya di wilayah tersebut ialah terkait sentimen warga setempat pada kepolisian. Ia menilai, aksi kekerasan yang polisi lakukan terhadap masyarakat NTB di daerah Bima masih belum dapat dilupakan warga. Oleh karenanya, menurut dia, peristiwa di Bima yang terjadi Desember 2011 lalu menjadi memori yang membuat masyarakat setempat ‘anti polisi’. Terlebih, sejak saat itu kerusuhan di wilayah tersebut terus terjadi berulang-ulang dan membuat warga kerap terlibat kontak langsung dengan kepolisian. “Pascakerusuhan Bima, sentimen negatif masyarakat NTB kepada polisi sangatlah tinggi. Seharusnya polisi merasakan hal ini,” ujar dia.


Neta S pane (kiri)
Ketua Prisidium Indonesian Police Watch
Kembali pada titik persoalan yang terjadi kemarin, Neta meminta agar polisi dapat segera mencermati tuntutan warga terkait kematian Arniati. Kematian mahasiswi Universitas Sumbawa yang diketahui merupakan kekasih Iger ini harus segera diusut. Pasalnya, menurut dia, jika kematian Arniati ini tak kunjung diselidiki oleh kepolisian setempat, maka amarah warga yang digerakan oleh keluarga gadis tersebut akan semakin membara. Sebelumnya, kerusuhan pecah di wilayah Sumbawa besar yang berujung pada bentrokan warga. Sebuah pemukiman padat penduduk yang mayoritas dihuni oleh perantau dari Pulau Bali diserang masa pribumi. Sedikitnya 13 rumah, dua toko, hotel, serta pasar tradisional rusak. Para perantau ini pun kemudian dievakuasi oleh TNI ke tempat yang lebih aman. Amukan masa yang berjumlah hampir dua ratus orang ini bermula tak kala keinginan warga yang meminta polisi mengusut kematian Arniati. Masa curiga Arniati tewas karena dengan banyak tanda kekerasan. Tuduhan pun mengarah pada Iger, anggota Polres Sumbawa yang pada Sabtu (19/1) berkencan dengan Arniati.

Rusuh Sumbawa, Kesalahan yang Berulang


Api Membakar salah Satu Bangunan
Sangat di sayangkan
Insiden kerusuhan massa di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat mendapat reaksi keras. Setara Institute mendesak Mabes Polri menegakkan hukum terhadap terduga pelaku dan pihak-pihak internal di Polres Sumbawa, bila terbukti melakukan rekayasa kasus serta berupaya menutupi tindakan pidana yang dilakukan terduga pelaku. "Setara Institute meminta proses penegakan hukum tetap dilakukan terhadap pelaku anarkisme yang telah melakukan tindakan pengrusakan atau pembakaran fasilitas pribadi maupun fasilitas umum untuk terwujubnya kepastian hukum," demikian Bonar Tigor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute dalam siaran persnya Selasa (22/1/2013) malam. Peringatan hari jadi ke-54 Kabupaten Sumbawa 22 Januari ternoda dengan kerusuhan massa. Hal ini berawal saat terjadi aksi long march ratusan mahasiswa, keluarga korban dan diikuti massa ke kantor Pores Sumbawa. Massa menuntut polisi mengungkap kematian Ariati, mahasiswi Universitas Sumbawa jurusan ekonomi semester 5 yang juga pegawai di Dinas Dukcapil Pemda Sumbawa yang diduga dilakukan oleh Briptu I Gede Eka Suarjana, anggota Polres Sumbawa. Pengungkapan pembunuhan mahasiswi oleh kepolisian memunculkan pertanyaan karena penjelasan polisi janggal. Menurut versi keluarga korban, telah terjadi penganiayaan terhadap korban, sementara polisi bersikeras mengatakan korban meninggal dunia karena kecelakaan. Situasi memanas diperkeruh dengan berkembangnya isu terjadinya pemerkosaan terhadap korban. Sekitar pukul 13.00 waktu setempat, massa melampiaskan emosinya kepada kelompok tertentu. Tercatat beberapa fasilitas dan properti pribadi dirusak dan dibakar oleh massa, termasuk empat sarana peribadatan juga tidak luput dari aksi anarkis massa. Titik kerusuhan yang berawal di wilayah Seketeng, menjalar ke wilayah Jalan Baru dan Tambora yang berdekatan dengan kantor Bupati Sumbawa. Aksi anarkis ini juga dibarengi penjarahan oleh massa. Tidak terlihat aparat kepolisian setempat di lokasi kerusuhan, sementara pasukan TNI dari Kodim setempat diterjunkan untuk menenangkan massa. Aksi ini pernah terjadi 10 tahun lalu. Pada tahun 2003, 24 September ratusan mahasiswa Universitas Samawa (Unsa) melakukan aksi demo di Mapolres Sumbawa, sebagai protes atas kematian seorang mahasiswa yang bernama Mustakim yang diduga kuat akibat dianiaya beberapa oknum polisi. Korban yang sebelumnya masuk RSUD Sumbawa akibat kecelakaan kendaraan dijemput oleh enam anggota Polres Sumbawa dan ditahan, namun akhirnya korban dilarikan kerumah sakit dan meninggal dunia. Kematian korban menjadi pemicu kerusuhan yang mengakibatkan satu orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka, bentrokan dimulai dengan polisi dan menjalar ke pengrusakan rumah dinas kapolres Sumbawa, sebuah pos polisi, dan tiga mobil juga dirusak oleh massa saat itu. "Setara Institute berpendapat, dengan adanya kejadian tahun 2003, seharusnya aparat kepolisian Polres Sumbawa dapat berlajar dari kasus yang lalu, bagaimana massa gampang terpancing emosi dan terprovokasi melakukan tindakan anarkis yang dipicu atas kekecewaan dan ketidakprofesionalan kepolisian dalam menjalankan tugasnya," demikian Bonar Tigor Naipospos dan Ismail Hasani dari Setara Institute. "Apalagi dalam kasus kerusuhan saat ini, di mana pelakunya etnis pendatang seharusnya menjadi perhatian khusus dan penanganan yang secepatnya agar tidak berkembang pada konflik bernuansa SARA. Jangan ada upaya-upaya menutup-nutupi dan melindungi pelaku maupunkcorps kepolisian," tandas Bonar. Berulangnya kejadian yang sama, tidak cukup hanya sebatas melakukan pencopotan pimpinan kepolisian setempat. "Sudah saatnya dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap Polres Sumbawa beserta jajarannya. Insiden ini menunjukkan tidak adanya reformasi di jajaran Polres Sumbawa," demikian siaran pers Setara Institute.

Ketua Komisi III salahkan polisi atas kerusuhan Sumbawa


Gede Pasek Suardika
Ketua Komisi III DPR
Ketua Komisi III DPR, Gede Pasek Suardika mengatakan, kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), karena lemahnya respons polisi. Dia menilai polisi lamban melerai aksi massa. "Deteksi dininya (polisi) lemah, ketegasan aparat payah, malah aparat memilih menonton aksi kerusuhan daripada mengatasi kerusuhan," kata Pasek saat dihubungi wartawan, Rabu (23/1). Menurut Pasek, polisi tidak bergeming ketika ratusan massa merusak belasan rumah dan beberapa di antaranya hangus dibakar. Bahkan, lanjut Pasek, ketika jumlah massa bertambah, polisi hanya menghalau saja tanpa disertai tindakan tegas. "Kalau atasannya gamang, tentu aparat di bawahnya ragu-ragu," kata Pasek. Diakui Pasek, bisa jadi keraguan polisi menghalau massa yang anarki karena polisi menjaga diri dan mengantisipasi, takut dituduh melanggar HAM ketika bertindak kasar. Sehingga polisi terkesan hanya menyaksikan kerusuhan. Namun, seharusnya polisi tidak bersikap demikian. Sebagai bagian dari penegak hukum, sudah sepatutnya polisi memiliki wewenang menindak tegas siapa saja yang melanggar hukum. "Kalau mengatasi aksi massa ratusan saja sebuah Polres sudah tidak mampu, bagaimana dengan massa yang lebih besar?," kata Pasek. Sebelumnya, kerusuhan di Sumbawa diduga berawal dari kecelakaan lalu lintas, yang menewaskan seorang wanita. Kerusuhan tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 Wita. "Yang jelas pemicunya kecelakaan out of control pada malam Minggu sekitar pukul 23.00 Wita ada kecelakaan dua orang naik motor, kemudian pacar korban meninggal peristiwa menyulut emosi massa bergerak ke rumah cowok," kata Kabid Humas Polda NTB, AKBP Sukarman Hussein lewat telepon selulernya, Selasa (22/1). Massa dari pihak wanita kemudian mendatangi rumah korban laki-laki. "Sempat melempar beberapa rumah korban kecelakaan, kerugian material belum tahu," ujarnya. Saat ini, polisi dan TNI berhasil menenangkan massa agar tidak anarkis. "Situasi berhasil diamankan," tegasnya.

Din Syamsudin memintah Aparat Mengusut Tuntas kerusuhan Sumbawa


Dr. Sirajuddin Syamsuddin
Ketua PP Muhammadiyah
Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta kepolisian mengusut tuntas pemicu kerusuhan di Sumbawa Besar, Ibu Kota Kabupaten Sumbawa, yang terjadi Selasa (22/1) sekitar pukul 13.30 WITA. "Saya meminta kepolisian mengusut pemicu kerusuhan di Sumbawa Besar sampai tuntas kemudian menjelaskan kepada publik apa yang sesungguhnya terjadi antara anggota Polri dan kekasihnya itu," kata tokoh Muhammadiyah yang juga putra kelahiran Sumbawa Besar ketika dihubungi dari Mataram, Rabu. Ia meminta aparat kepolisian mengedepankan pendekatan persuasif dan berkeadilan dalam penanganan kasus kerusuhan di Sumbawa Besar tersebut, dan jangan sekali-kali menimbulkan kesan membela anggota, karena itu sangat sensitif bagi rakyat. "Dalam penanganan kasus kerusuhan di Sumbawa Besar itu jangan sekali-kali menimbulkan kesan membela anggota. Ini sangat sensitif," katanya. Din mengatakan, terkait dengan pemicu terjadinya kerusuhan itu hingga kini masih ada perbedaan prinsip antara pihak kepolisian dan keluarga korban. "Saya meminta pemerintah daerah dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Sumbawa untuk dapat mengendalikan situasi melalui pendekatan kepada masyarakat, khususnya tokoh masyarakat agar bisa segera mengendalikan situasi dan tidak meluas ke wilayah lain," katanya. Din mengimbau seluruh masyarakat Sumbawa untuk mengedepankan kerukunan dalam alam masyarakat yang majemuk dan segera mengakhiri konflik agar tidak sampai meluas baik di Pulau Sumbawa maupun di luar daerah ini. Kerusuhan di Sumbawa Besar terjadi pada Selasa (22/1) sekitar pukul 13.30 WITA yang mengakibatkan belasan bangunan rumah, termasuk hotel rusak dan terbakar. Aksi perusakan itu diduga dipicu oleh isu bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan. Kepolisian Daerah NTB telah mengklarifikasi pemicu kerusuhan di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, untuk dipahami semua pihak. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTB AKBP Sukarman Husein seperti diberita media massa lokal mengatakan kasus sebenarnya adalah kecelakaan lalu lintas, bukan pembunuhan atau apa pun yang diisukan. "Ini fakta yang sebenarnya," katanya. Ia mengatakan kejadian yang sebenarnya adalah kecelakaan lalu lintas pada Sabtu (19/1) sekitar pukul 23.00 WITA di jalan raya jurusan Sumbawa-Kanar KM 15-16, di dekat tambak udang Dusun Empang, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.

90 orang diduga sebagai Provokator Kerusuhan Sumbawa


Brigjen Pol Boy Rafli Amar
Karopenmas Divhumas POLRI.
90 orang penduduk setempat diduga menjadi pelaku kerusuhan massa di Kabupaten Sumbawa, NTB. Saat ini mereka telah ditahan dan diperiksa polisi. "Sebagian besar diduga kuat pelaku kejahatan aksi anarkis ini. Tidak ada korban jiwa dari amuk massa ini," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Indonesia, Brigadir Jenderal Polisi Boy Amar, di Jakarta, Rabu. Polisi mengerahkan 1.300 personel didukung 476 personel TNI AD setempat untuk melakukan langkah-langkah penghentian, mencegah konflik yang ada hingga mengembalikan kondusivitas keadaan. Menurut polisi, penyerangan, perusakan, dan pembakaran rumah di kabupaten itu dilakukan sekitar 200 orang di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, sekitar pukul 13.00 WITA, kemarin. "Aksi anarkis ini menyebabkan 13 rumah rusak, dua toko, toko-toko swalayan, hotel, dan pasar tradisional di sana," kata dia. Salah satu hotel yang dirusak massa adalah Hotel Tambora, hotel terbesar di kota itu. Sejurus amuk massa itu, kantor-kantor tutup, demikian juga bank-bank yang beroperasi di sana sebagaimana pasar. Satu bank pemerintah di sana bahkan mengungsikan pegawainya yang berasal dari etnik tertentu ke luar Pulau Sumbawa menuju Kota Mataram memakai kapal penyeberangan dari Pelabuhan Pototano. Kekerasan massa itu juga diikuti penjarahan dan pencarian terhadap warga etnik tertentu. Warga yang terancam keamanannya itu lalu diungsikan ke Markas Polres Sumbawa, Komando Distrik Militer setempat, dan beberapa lokasi penampungan lain yang aman. Kompi B Batalion Infantri 742/Satya Wira Yudha yang bermarkas di pinggiran Kota Sumbawa juga dikerahkan untuk mencegah aksi lebih buruk massa yang mengamuk. Penelusuran polisi menyatakan, amuk massa dipicu kesimpang-siuran kabar tentang perempuan warga setempat yang tewas akibat kecelakaan lalu-lintas. Salah paham berkembang, karena warga terlanjur percaya bahwa perempuan itu tewas dianiaya seorang warga Sumbawa dari etnik pendatang. "Sebelum dinyatakan tewas, Arniati --perempuan korban tewas itu-- bersama pacarnya yang anggota polisi Brigadir Polisi I Gede Eka Swarjana, keluar bermalam minggu, menggunakan sepeda motor dengan cara berboncengan," katanya. Sanak-keluarga Arniati curiga dia dibunuh, bukan kecelakaan lalu-lintas. Kecurigaan itu berkembang menjadi amarah saat semakin banyak isu beredar, antara lain menyebutkan visum et reportum menyatakan tanda-tanda kekerasan, yang dikait-kaitkan dengan kekerasan pada alat kelamin perempuan korban itu. "Sanak-keluarga korban yang didukung warga setempat lain, semakin marah ketika mendapat laporan dari pihak kepolisian, kematian Arniati murni kecelakaan lalu-lintas," kata Rafli.

Kronologi Bentrokan di Sumbawa,Sudah Mulai kondusif


Menko Polhukam
Menko Polhukam
Menko Polhukam Djoko Suyanto sudah mendapat laporan soal rusuh yang terjadi di Sumbawa, NTB. Aparat Polri dan TNI telah turun tangan untuk membuat situasi kembali kondusif. "Situasi terus dikendalikan. Aparat keamanan dari kepolisian dibantu TNI sudah disiagakan membantu Polri," jelas Djoko Suyanto, Selasa (22/1/2013). Berikut penjelasan peristiwa rusuh di Sumbawa menurut Djoko berdasarkan laporan dari Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo: 1. Pada 22-1-2013, pukul 10.00-12.00 Wita, 150 mahasiswa Universitas Sumbawa (Unsa), Sumbawa Besar, dipimpin Iswandi (mahasiswa Unsa) melakukan unjuk rasa di Kantor Polres Sumbawa untuk menuntut diproses scara hukum oknum anggota Polres Sumbawa, Brigadir I Gde Eka Suarjana yang menyebabkan pacarnya, Aryati (mahasiswi Unsa) meninggal dunia dengan alasan kecelakaan murni (tabrakan saat naik sepeda motor). Tapi isu yang dikembangkan di kalangan masyarakat bahwa korban dianiaya dan diperkosa oleh pelaku. 2. Pukul 13.00 Wita, setelah unjuk rasa di Polres, massa mahasiswa dan keluarga korban melakukan pelemparan terhadap rumah ibadah dan beberapa meterial milik rumah ibadah itu, seperti meja, kursi, dan lain-lain dikeluarkan dan dibakar. Aksi anarkis massa dapat diredam oleh aparat dari TNI/Polri. 3. Aksi berlanjut dengan pengrusakan terhadap rumah dan aset milik warga Bali. Kerugian 1 rumah dibakar, 2 ruko dibakar, 2 mobil dan 1 sepeda motor dibakar, sementara mobil Damkar tidak dapat bergerak karena disandera oleh massa. Sementara warga Bali sudah mengungsi ke Kodim, Kompi B Yonif 742 Sumbawa dan Kantor Bupati Sumbawa. 4. Situasi terus dikendalikan aparat keamanan dari kepolisian dibantu TNI yang sudah disiagakan membantu Polri.

Inilah Foto-Foto Almarhumma Yeni(Mahasiwi Unsa diduga Sebagai Korban)

بِسْــمِ اللهِ
 إنَّا ِللهِ وإنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْن الَلهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيْبَتي فَأجِرْنِي ِفيها وَأَبْدِلْني ِمنْها خَيرًا 
 Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahumma 'indaka ahtasibu musibati fa ajirni fiha wa abdilni minha khaira Artinya: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali. Ya Allah aku pasrah padaMu atas musibah ini, maka berilah aku pahala dan gantilah dengan yang lebih baik.
 إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ... فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ.
 Inna Lillaahi Maa Akhodza, Wa Lahu Maa A’tha, Wa Kulla Syai’in ‘Indahu Bi Ajalin Musamma “Sesungguhnya hak Allah adalah mengambil sesuatu dan memberikan sesuatu. Segala sesuatu yang di sisi-Nya dibatasi dengan ajal yang ditentu-kan.” Oleh karena itu, bersabarlah dan carilah ridha Allah.” ( HR. Al-Bukhari 2/80; Muslim 2/636) Semoga Keluarga Korban Diberih kekuatan dan ketabahan Oleh Allah SWT atas segalah Ujian,Jalan Taqdir yg telah di gariskan Kepada Almarhumma Saudarih Yeni,Serta amal perbuatan Almarhumma Semasa Hidup di terima Disisi Allah SWT,Amin amin Amin Yarabbal Alamin.

Foto-Foto Kerusuhan Sumbawa 2

Kerusuhan massa terjadi di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa sore, 22 Januari 2013. Massa mengamuk dengan cara merusak dan membakar beberapa bangunan dan kendaraan,tidak lain dari sifat arogan Mahasiswa yg terlaluh mendramatis suatu perkara serta adanya provokasi org-org yg tidak bertanggung jawab dan memfaatkan kesempatan dalam melakukan tindakan kriminal seperti penjarahan.

Foto-Foto Kerusuhan Sumbawa

Kerusuhan Sumbawa yang terjadi sejak Selasa (22/01) siang sama sekali tidak diduga oleh banyak orang. Bahkan kerusuhan ini makin meluas menjadi penjarahan dibeberapa titik di Kota Sumbawa Besar. Berikut beberapa Foto yang terekam saat awal-awal kerushan terjadi:

Ulang Tahun Sumbawa, Yg di Warnai DenganProvokasi


Mobil Terbakar
Salah Satu Akibat Dari Amukan Massa
Sumbawa Besar- Tepat di hari ulang tahun Kabupaten Sumbawa ke-54, Selasa (22/01), ribuan masyarakat Sumbawa memadati jalan-jalan utama di Kota Sumbawa Besar. Massa mulai turun ke jalan ketika ratusan mahasiswa berlongmars Selasa (22/01) pagi menuntut pihak Kepolisian Sumbawa untuk mengungkap fakta sebenarnya atas kematian seorang mahasiswi asal Sumbawa. Informasi yang memicu masyarakat melampiaskan emosinya yakni kematian mahasiswa tersebut disebabkan oleh pembunuhan yang dilakukan oleh seorang oknum Polisi yang bertugas di Sumbawa. Pihak Polres Sumbawa sebelumnya menjelaskan, kematian mahasiswi tersebut disebabkan oleh Kecelakaan, namun keluarga mahasiswa yang meninggal membantah bahwa kematian tidak mengarah kepada kecelakaan. Pantauan Sumbawanews.com, sebuah pura Suka Duka yang terletak disamping PLN juga ikut dirusak massa, bahkan sebuah mobil menjadi korban pembakaran massa yang tersulut emosi tersebut. Untuk meminimalisir kerusuhan di Ibu Kota Sumbawa ini, pihak TNI menerjunkan pasukannya di jalan-jalan utama, sedangkan pihak kepolisian berpakaian resmi tidak nampak dijalan-jalan utama. Hingga berita ini di onlinekan, kerusuhan semakin meluas, titik kerusuhan yang berawal di Wilayah Seketeng, menjalar ke wilayah Jalan Baru dan Tambora yang berdekatan dengan kantor Bupati Sumbawa.

Surat Yang Menjadi Pangkal Kerusuhan Disumbawa

Aksi ratusan mahasiswa Universitas Sumbawa (UNSA), Selasa (22/01) sekitar pukul 08.30 wita yang menuntut penyelesaian atas terbunuhnya mahasiswa UNSA bernama Arniyati merupakan pemicu terjadinya kerusuhan di Sumbawa sejak siang tadi. Berikut kutipan lengkap selebaran, tuntutan aksi mahasiswa

UNSA: MAHASISWA MENGGUGAT 
 Belakangan kepercayaan rakyat pada Institusi Kepolisian sudah sangat tergerus oleh perilaku oknum-oknum yang menciderai korps institusinya sehingga memicu reaksi-reaksi beragam yang digalang dari berbagai komponen masyarakat, LSM, Mahasiswa dll. Hal tersebut makin memuncak dikarenakan para petinggi Kepolisian ikut terlibat berbagai berbagai macam kasus, salah satu kasus simulator sim yang saat ini ditangani KPK, lamban penanganan kasus jika melibatkan ANGGOTA KEPOLISIAN. Kesannya mengabaikan dan jika kasus itu dialami masyarakat, maka kasusnya diusut tuntas tanpa memakan waktu lama. Sehingga ada kesan hokum akan ditegakan kalau masyarakat yang bersalah, lalu bagaimana kalau POLISI yang melanggar hokum???
Barangkat dari fenomena yang terjadi dipusat maupun didaerah atas perilaku OKNUM-OKNUM KEPOLISIAN, maka kami MAHASISWA UNIVERSITAS SAMAWA pesimis atas penanganan kasus-kasus yang ditangani oleh KEPOLISIAN RESORT SUMBAWA karena banyak kasus yang tidak dapat dituntaskan bahkan ada indikasi melindungi jika kasus itu melibatkan ANGGOTA KEPOLISIAN. Masih membekas dibenak kami, beberapa tahun silam kasus penganiayaan yang berujung tragis yang dialami oleh senior kami (MUSTAKIM) Mahasiswa Universitas Samawa yang dilakukan oleh oknum Polisi dan saat ini terjadi lagi dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum polisi hingga menghilangkan nyawa salah satu rekan MAHASISWA UNIVERSITAS SUMBAWA yang bernama ARNIYATI, diduga oknum polisi dalam keadaan Mabok kerena mengkonsumsi minuman yang mengandung alcohol. Apakah mengkonsumsi minuman keras hanya dilarang pada masyarakat sedangkan APARAT dibolehkan??? Apakah menghilangkan nyawa orang lain dikatankan murni kecelakaan??? Kami MAHASISWA UNIVERSITAS SAMAWA MENGGUGAT kepada KAPOLRES SUMBAWA:
 1. Segera menuntaskan kasus Araiyati yang diduga melibatkan OKNUM POLISI 
 2. Segera ditetapkan pelaku OKNUM POLISI sebagai tersangka 
 3. Segera menarik pernyataan di media atau simpulan kasus kematian Arniyati yang kami anggap ganjil Jika TUNTUTAN kami tidak segera dituntaskan secara adil dan transparan serta belum ada kejelasan kasus tersebut selama SEPULUH HARI dari hari ini, kami MAHASISWA UNIVERSITAS SAMAWA Menggugat KAPOLRES SUMBAWA SEGERA DICOPOT dari Jabatannya.
Sumbawa, 22 Januari 2013

Design by Aps-Code